Rabu, 16 November 2011

This day like piece of story

ku tarik nafasku dan menghembuskannya berlahan, ketika kutemui seseorang yang tak asing lagi di depanku. Tak selang beberapa detik, dia hanya melewatiku begitu saja. Hal yang sudah seperkian kali kami bertemu dengan cara seperti ini. Saat ini, keadaan masih saja sama, bahkan ketika dia bersama pacarnya yang baru. Dia masih saja memperlakukanku seperti itu. Entah, sejak kami satu sekolah. Cerita mengenai aku dan dia putus, hubungan pertemanan tak mungkin lagi dapat aku jalin. Sepertinya dia marah, atau dia memang marah ?


Ah, sesaat aku bosan memulai pemikiran seperti itu. Entah kenapa, terkadang pertemuan yang hanya sesaat saja cukup membuatku mulai lelah dengan caranya. Aku lebih suka dia tidak melihatku dan pergi begitu saja. Tanpa perlu melihatku lantas aku sadar dan dia membuang muka pergi tanpa lupa kebenciannya. Intinya aku masih sulit menerima kenyataannya. Aku merasa terganggu saat dia perpaspasan denganku siang ini.


Aku udah membicarakanya dengan sahabatku, kutahu mereka juga tidak menyukainya, bahkan aku tak sempat merasa terpojokan atas dia diantara sahabatku yang juga kenal dengannya. Aku cukup bisa dibela, atas kesetujuan beberapa temanku yang melihat dia memang anak yang sombong. Namun, aku masih tidak bisa setujui meski pendapat mereka menyatakan dia memang begitu kesetiap orang.


Hari ini, saat aku duduk di koridor sekolah, melihat pertandingan voli. Tak terduga bola voli jatuh mengeliding di depanku. Mampus! Hal yang menyebalkan pasti terjadi. Anak OSIS, tak lain dia, datang . Melihatku sejenak, lalu mengambil bola itu lantas pergi. Semenjak itu yang mengambil bola di sekitarku, adalah anak OSIS lain. What?! What happen with him. So distinguish if know he can so damn just because that ! Aku cuman enggak suka aja semuanya dipermasalahin sampai seperti itu.

***


Aku lupa. Tapi itu semuanya memang salahku. Ku ingat sejak aku memutuskannya tanpa sebab. Tapi semuanya kulakukan karna aku sudah muak dengan alibinya. Ku ingat lagi, ku ingat semuanya. Sejak dia datang mencoba membuaku menyukainya hingga dia hanya seorang yang hanya suka dengan status berpacaran.


Dia? Playboy pertama yang aku enggak tahu maunya apa. Saat kutahu sebagian dari kisahnya, aku hanya mencoba untuk memberikan sedikit kebaikan tanpa perlu lama menjadi pacarnya. Karena ku tahu aku sudah salah dengannya.


Sebulan itu dia cukup baik memperlakukanku. Tapi sebulan itu, dia juga tak menyadari kekesalanku. Entah kenapa, aku sangat merasa cuman status. Dia itu pendiam, polos, tanpa banyak perkataan dan menurut saja. Aku sangat sebal dengan kebohongannya. Aku juga sudah sangat sebal saat menunggunya lama di sebuah acara. Bodohnya aku tak bisa mengeluarkan kekecewaanku. Kulakukan dengan cara memanasinya. Tapi dia cukup membuatku shok, ketika dia bisa bersms ria dengan adek kelasnya. Hal yang membuatku semuanya tampak aneh. Aku, jujur enggak merespon hal ini nyakitin. Tapi hal ini lebih ke menyebalkanku. Lantas, what I am in his opinion? Just a frame ?


Aku selalu diam beberapa hari, tingkahnya tak dapat aku terima lagi . Tapi hal yang membuatku bodoh adalah tidak memberikan alasan. Mungkin itu pukulan buatnya, tapi itu juga menghancurkan imejku sebelum semuanya ini terjadi padaku.

***



Ku melewati lapangan untuk tak melihatnya lagi,walaupun aku tak tau dia ada dimana. Tapi, kasat mata tak juga mampu membohongi ku saat kulihat dia dengan pacarnya. Aneh, dia masih seperti ini. Apa dia benar benar ini ke pacarnya. Sakit. Aku dibodohin, tampak biasa, padahal dulu dia tampak polos dan lugu. Tapi? Dia tampak apa adanya dengan yang sekarang . Tanpa ada kesan kalem seperti dulu.


Teringat perkataan teman, saat kumulai memasuki lingkungan sekolahku yang baru, "dia sakit saat aku mutusin dia tanpa sebab". Why? He can so easily said like that. And 3 days after that, he had new girl. Humft.. That's my ex man? :O dan hal yang menyebalkan, ceweknya itu pelampiasan atas aku. Sakit. Banget. Hal yang tak mengerti kumulai lagi. Entah semuanya seperti kenyataan yang pahit. Seperti berita lama yang mungkin itu sudah basi untuk ku dengarkan. Tapi, seenggaknya itu kenyataan sebelum semuanya sia-sia. Sebelum semunya semakin medramatisir, sahabatku mengingatkanku. Dia playboy, paling sakitnya sebentar. Shit! Dia cowok itu . Tetep saja mukanya enggak berubah --'

***


Ku lama terdiam, merasa semuanya cuman kisah yang hanya akan disesali. Tak ada lebih dan tak ada kurangnya untuk ku pikirkan lebih jauh . Semuanya hanyalah drama. Semuanya FAKE> entah itu yang kutahu, aku juga enggak berharap lebih. Sejauh aku ngerti . Sejauh itu aku cuman bisa tersenyum. Just remind anything good and trash anything bad. Because that make me to be nice person :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar